Janissaries (from Ottoman Turkish يکيچرى Yeniçeri yang artinya “prajurit baru”) adalah prajurit yang paling
terkenal dan ditakuti di Eropa selama berabad-abad, dari awal dibentuknya
mereka pada awal masa kekaisaran Ottoman, bahkan hingga keruntuhannya pada
tahun 1826. Image tentang Janissari pada masa jayanya hampir selalu digambarkan
dengan prajurit yang tangguh, disiplin, dan tak kenal kata mundur.
ASAL MUASAL dan LEGENDA
Semua berawal dari sebuah negara kecil (Beyliks) di Soghut yg dipimpin oleh Utsman I. Sebagai sebuah negara kecil yang berbatasan langsung dengan Byzantium, Ottoman banyak melakukan peperangan baik besar maupun kecil dengan Byzantium dan menjadi pelindung serta perisai bagi keamanan kesultanan Seljuk. Berbagai macam prajurit digunakan oleh Ottoman, baik kavaleri maupun infantri.
Pada awalnya, pasukan Ottoman mirip
dengan Beylik lain di Anatolia, pasukan itu antara lain Kavaleri Musellem dan
Yaya Infantry, dan tak lupa pula para Ghazi. Pada masa Orkhan Ghazi (Orkhan
Bey) -Putra Utsman I- mulai dibentuk pasukan Kapikhalki (Qapikulu/Kapikulu)
sebagai pengawal pribadi yang terdiri dari para full time infantry menggantikan
pasukan berkuda yang cenderung setia pada klan tertentu (nantinya Qapikulu ini
berubah menjadi kesatuan kavaleri yang mengawal Sultan). Pasukan ini
terinspirasi dari pasukan Bizantium yang bernama Murtatoi, yang pada masa itu
adalah infantry pemanah yang efektif. Sebenarnya, nama Janissari juga muncul
sebelum masa Ottoman. Pasukan itu adalah Ianitsarrai/Ginetari/Jenizzeri,
kesatuan pasukan light cavalry Bizantium. Entah bagaimana nama ini mirip dengan
nama kesatuan pasukan elit Turki Ottoman yang terbaru.
Sulit untuk membedakan mana sejarah
dan legenda pembentukan Janissari. Legenda mengatakan bahwa Janissari dibentuk
pada masa Orkhan Ghazi. Latar belakang pembentukan ini adalah fakta bahwa
pasukan Ottoman dikumpulkan dari berbagai macam klan, yang kesetiaannya
dipertanyakan. Di samping itu pada setiap kampanye militer, para pasukan yg
berasal dari klan-klan ini meminta jatah barang rampasan yang jumlahnya besar.
Oleh karena itu, Orkhan Ghazi meminta pendapat dari para penasehatnya untuk
membuat suatu pasukan baru yang hanya loyal kepada Ottoman. Penasehat tersebut
adalah Alauddin, Ali Pasha, dan Çandarlı Kara Halil Khairuddin Pasha. Alauddin
mengusulkan supaya dibentuk suatu pasukan yang profesional, yang dibayar secara
rutin dan siap jika sewaktu-waktu ada pertempuran, maka dibentuklah Piyade/Yaya
Infantry. Sedangkan Çandarlı Kara Halil Khairuddin Pasha mengusulkan agar
pasukan tersebut dibentuk dari orang-orang yang telah ditaklukkan, beliau
berkata :
“The conquered are the the
responsibility of the conqueror, who is the lawful ruler of them, of their
lands, of their goods, of their wives, and of their children. We have a right
to do, same as what we do with our own; and the treatment which I propose is
not only lawful, but benevolent. By enforcing the enrolling them in the ranks
of the army, we consult both their temporal and eternal interests, as they will
be educated and given a better life conditions.”
Maka Orkhan Ghazi menerima usulan
tersebut dan melakukan rekruitmen pasukan dari para tahanan dan anak=anak dari
orang-orang Kristen, yang diambil dari daerah-daerah yang ditaklukkan Ottoman. Ali
Pasha (yang merupakan pengikut Tarikat Bektashi) mengusulkan agar pasukan ini
menggunakan topi khas berwarna putih yang dinamakan Ak Börk untuk membedakan
mereka dan asal mereka dengan pasukan lainnya. Pengaruh dari Tarikat Darwis
Bektashi ini juga nampak dalam model seragam Janissari. Bektashi menjadi aliran
keagamaan resmi dalam ketentaraan Janissari sejak Haji Bektashi Wali memberikan
berkat pada kesatuan pertama Janissari.
Akhirnya dibentuklah suatu pasukan baru yang dinamakan Janissari (Yeniçeri). Tidak jelas bagaimana terminologi Janissari (Yenicheri=Pasukan baru) ini muncul. Apakah terpengaruh oleh nama kesatuan dari Bizantium tadi atau memang kebetulan “pasukan baru” dalam bahasa Turki adalah Yeniçeri. Battalion (Orta) pertama Janissari awalnya adalah suplemen bagi Yaya Infantry. Berbeda dengan legenda, beberapa sumber sejarah menyatakan bahwa Putra Orkhan Ghazi, yaitu Sultan Murad I yang pertama kali merekrut Janissari.
REKRUITMEN
Sistem perekrutan Janissari pada awalnya memakai Devshirme. Sebagian besar sumber sejarah mengatakan sistem ini secara efektif mulai diterapkan pada masa Sultan Murad I. Tidak jelas asal muasal sistem ini, apakah terpengaruh dari sistem Ghulam yang digunakan oleh Khilafah Abbasiyah sebelumnya atau terpengaruh dari cara yang sama yang digunakan oleh Bizantium. Yang jelas sistem ini muncul pada masa awal terbentuknya Janissari.
Beberapa ahli hukum Ottoman mencoba
menjustifikasi bahwa sistem Devshirme ini legal dengan alasan bahwa leluhur
anak-anak yang direkrut itu adalah orang taklukan dan mereka (orang Slav &
Albania) baru memeluk agama Kristen setelah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan
keyakinan bahwa dengan merekrut mereka dan konversi mereka menjadi Muslim maka
akan menyelamatkan mereka dari neraka. Berbeda dari Inkuisisi Spanyol yang
menerapkan ide konversi ini secara brutal sehingga menimbulkan perlawanan dari
para Muslim dan Yahudi Andalusia, Devshirme seringkali diikuti oleh keluarga
Kristen secara sukarela karena memberikan janji dan harapan akan kehidupan yang
lebih baik. Namun sistem ini banyak mendapat banyak pertentangan dari para
ulama pada masa itu, karena menganggap bahwa sistem ini merupakan suatu bentuk
kesewenang-wenangan dari penguasa dan tidak seharusnya penguasa menganggap para
Kafir Dzimmi sebagai properti pribadinya.
Namun, sistem ini tetap diterapkan
oleh para Sultan Ottoman hingga penghapusannya tahun 1648. Awalnya, Balkan dan
daerah minoritas Kristen di Anatolia menjadi daerah yang terkena sistem ini.
Balkan menjadi daerah yang paling banyak menyumbangkan anak yang direkrut
melalui Devshirme. Secara kasar, dari setiap 40 keluarga diambil 1 pemuda.
Awalnya, perekrutan ini diadakan setiap 5 tahun sekali, namun dalam
perkembangannya Devshirme dilakukan tiap tahun. Dalam satu tahun bisa didapat 1.000-3.000
pemuda tiap tahun, hingga pada suatu masa dimana jumlah pemuda yang didapat
dari Devshirme tidak mampu lagi mencukupi jumlah pasukan yang ada maka mulai
direkrutlah pasukan dari kalangan Muslim sendiri. Yang direkrut dengan Devshirme
adalah anak dan pemuda yang berusia 8-20 tahun, yang kebanyakan dari daerah
pedesaan miskin dan tidak berpendidikan, jarang yang berasal dari kota atau yang
berpendidikan. Keluarga yang hanya memiliki 1 anak lelaki dan keluarga Yahudi
bebas dari Devshirme. Keluarga Yunani juga mendapat keringanan dalam Devshirme.
Karena dengan adanya Devshirme ini, taraf hidup dan karir menjadi menanjak maka
banyak keluarga Kristen dan bahkan Muslim sendiri yang secara sukarela
menyerahkan anak mereka, bahkan banyak yang menyuap untuk memasukkan anak-anak
mereka. Selanjutnya setelah terpilih, para anak dan pemuda ini dibagi menjadi 2
kelompok, yang pertama disebut sebagai Iç Oĝlan (inner boys) yang kecakapannya
di atas rata-rata, yang berpeluang menduduki jabatan tinggi setelah melalui
pendidikan militer. Yang kedua disebut sebagai Acemi Oĝlan (Foreign boys) yang
akan menjadi prajurit Janissari biasa. Berbeda pada Acemi Oĝlan yang hanya
dididik dengan seni kemiliteran murni dan pelajaran agama, Iç Oĝlan akan
mendapatkan pelajaran berupa etiket, tata krama, kesusastraan, militer, agama,
seni beladiri, pelajaran bahasa Arab dan Persia, dan musik bagi yang berbakat,
dll. Setelah itu mereka akan dididik sesuai spesialisasinya. Tanggung jawab
pendidikan Iç Oĝlan dipegang oleh Kapi Agha dan Hoca.
Pendidikan yang ditempuh Acemi Oĝlan sangat berat. Para kadet ini hanya boleh keluar barak jika waktu libur, selebihnya mereka harus hidup di barak. Pendidikan ini akan memakan waktu 6 tahun. Setelah lulus mereka akan ditempatkan di pos sesuai spesialisainya.
STRUKTUR KEMILITERAN JANISSARI
Korps atau Ocak Janissari masuk ke dalam struktur Kapikulu Askerleri (Pasukan Sultan). Ocak atau Korps Janissari ini terdiri dari 196 Orta dan secara umum dibagi menjadi 3 bagian yaitu Cemaat (assembly-110 Orta), Beyliks atau Böluk (division-61/62 Orta), dan Sekban atau Seğmen (Dog Handler-33/34 Orta). Di dalam Cemaat terdapat pasukan elit bernama Solak Ortas. Di dalam Solak Ortas terdapat Műteferrika yang beranggotakan putra vassal atau pejabat tinggi kemiliteran. Masing-masing Orta mempunyai ciri khas sendiri-sendiri sesuai dengan asal, tugas, dan atribut masing-masing.
Berikut ini adalah Lencana pada masing-masing Orta dan Orta yang menonjol dalam Struktur Ocak Janissari :
Selain Ocak Janissari juga terdapat
korps lain yang juga masuk dalam organisasi Janissari. Yang pertama adalah
Acemi Oĝlan yang juga diikutkan dalam kampanye militer sebagai program magang.
Ada juga Cebeci sebagai penanggung jawab logistik tempur, Topçu atau prajurit
artileri, Saka (water carrier) yang bertugas membawa perbekalan, Top Arabaci
yang bertugas dalam transportasi meriam dan persenjataan, dan Humbaraci
(Janissary Grenadier).
Di samping itu terdapat kesatuan
Janissari lain yang bertugas secara terpisah, yaitu Bostanci (Gardener) yang
bertugas menjaga 70 area di sekitar Istana Kesultanan dan area sekitar
Istanbul. Baltaci (Wood Cutter) yang bertugas menjaga area di dalam istana,
kesatuan ini dipimpin oleh Kizlar Agha (Chief of Black Eunuch). Haseki Infantry
Guard yang bertugas menjaga artileri di dalam benteng Ibukota Kesultanan.
Dari tadi menyebutkan soal Orta,
sebenarnya apa sih Orta itu? Orta secara kasar dapat diartikan sebagai divisi.
Satu Orta terdiri dari 50 (abad 15) – 100 (abad 16) orang yang dipimpin oleh
Çorbasi (Soup Man) yang dibantu oleh enam perwira, sejumlah NCO, petugas
administratif, dan Imam. Çorbasi juga bertanggung jawab atas Acemi Oĝlan yang
magang di Orta tersebut. Di dalam Cemaat terdapat pasukan elit yang bernama
Solak Ortas yang dipimpin oleh Solakbasi yang dibantu oleh 2 perwira.
Sultan akan memilih sendiri Yeniçeri Ağasi (Agha Janissari). Agha Janissari ini adalah figur yang mempunyai kekuasaan yang luar biasa, bahkan Wazir Agung pun tidak berhak untuk memberi perintah kepadanya. Agha Janissari hanya menerima perintah langsung dari Sultan. Untuk menentukan semua keputusan di internal korps Janissari, Agha Janissari berkonsultasi dulu dengan Divan (Dewan) yang terdiri Kul Kâhyasi, Sekbanbaşi, 3 CO (Commanding Officer) dari 3 Orta elit yaitu Zağarcibaşi, Samsuncuibaşi, Turnacibaşi, dan juga Başçavuş (Provost-nya Janissari).
agha
janissary
Agha Janissari memimpin seluruh 196
Orta, tapi hanya boleh memimpin jika sultan hadir. Tapi jika Sultan tidak
hadir, maka Agha Janissari menyerahkan komando kepada siapapun Komandan Tentara
yg ditunjuk Sultan. Di bawah Agha Janissari terdapat staf Jenderal dan perwira
tinggi termasuk Sekbanbaşi (komandan Sekban) dan Kul Kâhyasi (Komandan korps
Bostanci), yang keduanya bertindak sebagai ajudan Agha Janissari.
Berikut ini beberapa perwira tinggi dan staf lain dalam hierarki Janissari
- Istanbul Ağasi, yang bertanggung jawab terhadap pendidikan Acemi Oĝlan dan semua unit yang berada di Istanbul.
- Ocak Imam (Chief Chaplain), bertugas sebagai Imam resmi kesatuan Janissari, berasal dari sekte Bektashi.
- Solakbaşi, komandan Solak Ortas
- Beytülmalci, bendahara umum Janissari
- Muhzir Ağa, semacam humasnya Janissari
- Kâhya Yeri, wakil Agha Janissari dalam Pertemuan Besar (Great Council) dengan Sultan dan bawahannya
- Talimhanecibaşi, yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan pendidikan dan pelatihan militer
- Azar Başi, penanggung jawab tahanan dan penjara
- Yeniçeri Kâtibi, Sekretaris Umum Janissari adalah orang sipil yang direkrut untuk mengurusi birokrasi dalam Janissari
- Yayabaşi, mantan komandan Yaya infantry, yang bertanggung jawab dalam mengumpulkan gulungan dan surat-surat.
Berikut ini adalah perwira senior dalam kepelatihan dan rekruitmen :
- Rumeli Ağasi, yang bertanggung jawab terhadap pelatihan 14 Orta dan Devshirme di Rumelia (Provinsi Ottoman di Eropa)
- Anadolu Ağasi, yang bertanggung jawab terhadap pelatihan 17 Orta dan Devshirme di Asia
- Gelibolu Ağasi, yang bertanggung jawab terhadap pelatihan Orta di Gallipoli
- Kuloğlu Başçavuşu, yang bertanggung jawab terhadap pelatihan militer anak-anak Janissari yang dimasukkan dalam Ocak Janissari.
Janissari menganggap Sultan sebagai Bapak yang memberi makan mereka, sehingga kepangkatan dalam satu Orta memakai istilah-istilah kuliner. Berikut ini adalah hierarki kepangkapatan dalam satu Orta :
- Çorbaci (Soup Maker), setara Kolonel, yang dibantu oleh :
- Aşçi Usta (Master Cook)
- Aşçi (Cook)
- Baş Karakulluçu (Head Scullion Junior Officer)
- Çavuş (messenger) = Karakulluçu (Sculiion), yang setara dengan Sersan
- Bayraktar, sebagai pembawa panji
- Odabaşi, kepala barak
- Vekilharç (Quartermaster)
- Sakabaşi, penanggung jawab distribusi air
- Imam
- Nefer atau Yoldaş, atau prajurit Janissari biasa. Yang junior disebut sebagai Eşkinci, yang veteran disebut sebagai Amelimanda, yang sudah pensium disebut sebagai Otutark. Otutark kadang diperlukan dalam peperangan dan diberikan previlege untuk berdagang.
Selain struktur di atas, di setiap
kota benteng seperti Baghdad, Erzurum, Jerussalem, Van, Khadin, dll milik
Ottoman juga punya struktur sendiri. Setiap Janissari di kota tersebut dipimpin
oleh Serhad Ağasi (Frontier Agha). Di provinsi Ottoman di Afrika Utara,
Janissari mempunyai struktur tersendiri, dan mempunyai Divan (Dewan) sendiri, yang
berdiri otonom dari pemerintahan Istanbul. Lama kelamaan Janissari juga direkrut
sendiri oleh para Beylerbey/Sançakbey, contohnya di Damaskcus ada dua macam
Janissari, yang pertama Janissari resmi kesultanan Ottoman dan yang kedua
Janissari yang menjadi pasukan pribadi Bey atau Pasha.
ATRIBUT
Atribut Korps Janissari terdiri dari bendera/ panji utama/ Bayrak Janissari yang disebut sebagai Imam Âzam dan panji masing-masing Orta. Imam Âzam berbahan sutra putih dengan diberikan inskripsi yang berarti :
“Kamilah yang memberikan Kemenangan
dan Kemenangan yang gemilang.
Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik penolong. Oh Muhammad, Engkau telah membawa kabar gembira bagi orang beriman.”
Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik penolong. Oh Muhammad, Engkau telah membawa kabar gembira bagi orang beriman.”
Legenda mengatakan bahwa Orkhan
Ghazi memberikan panji berwarna dasar merah dengan bulan sabit tunggal di
atasnya kepada unit Janissari yang dibentuk, mirip dengan bendera nasional
Turki sekarang, 2 bulan sabit yang lain ditambahkan setelah penaklukkan
Konstantinopel. Motif lain yang ada adalah matahari, bintang, belati, “Tangan
Fatimah”, Dzulfiqar (pedang Ali bin Abu Tholib), Tuĝ, dll. Simbol lain yang
tidak biasa, tapi merefleksikan filosofi Janisari adalah sebuah Kazan, yaitu
kuali tembaga besar, yang dianggap harga yang paling berharga masing-masing
Orta. Sekali dalam sehari, para Janissari makan makanan (Pilav) yang dimasak dengan
Kazan. Dengan menutup Kazan ini, menandakan para Janissari sedang melakukan
pembangkangan, dan jika berkumpul di sekitarnya menandakan mereka mencari
perlindungan. Setiap Orta mempunyai Kazan sendiri-sendiri. Kazan ini dibawa
dalam parade dan peperangan. Dalam parade, jika Kazan muncul maka semua
Janissari wajib untuk bersikap hening. Dalam pertempuran, Kazan berfungsi
sebagai semacam rally point jika dalam kesulitan. Jika kehilangan Kazan maka
setiap Orta tersebut harus menanggung malu jika berhadapan dengan Orta yang lain.
SERAGAM dan SENJATA
Seragam Janissari berbahan wool, yang dibuat oleh pengrajin Yahudi di Thessalonika. Topi Börk dan Üsküf merupakan identitas utama Janissari yang mencerminkan pengaruh Darwis Bektashi. Sebuah sendok kayu yang ditempelkan pada topi ini adalah pertanda bahwa Janissari menggunakan simbol-simbol kuliner. Perwira senior memakai aksesoris tambahan dari bahan bulu rubah, tupai, lynx, dll.
Sepatu Janissari umumnya dari kulit berwarna merah kecuali perwira Senior yang memakai sepatu berwarna kuning. Ikat pinggang juga menentukan status seorang Janissari. Sebagai contoh, dalam Korps Bostanci terdapat 9 tingkatan, dengan urutan dari bawah ke atas sebagai berikut : biru (1st), putih (2nd), kuning (3rd), campuran biru dan putih (4th), kain putih halus (5th), sutra putih (6th), kain hitam halus (7th), hitam pekat (8th & 9th). Pada awalnya, Janissari memakai full armor, tetapi pada abad ke 16 mereka sudah mulai meninggalkan full armor kecuali untuk pasukan yang bertugas dalam pengepungan.
Pada awalnya, Janissari adalah infantry archer yang dilengkapi dengan busur dan crossbow (çanra). Dalam perkembangannya mereka juga memakai banyak senjata seperti pedang, gada, kapak, hingga senjata api. Pedang yang dipakai antara lain Yoldaş, Kiliç (pedang) yang melengkung, scimitar, yatağan (pedang dengan lengkungan ganda), & meş (rapier). Gada yang dipakai antara lain gürz, şeşper, koçbaşi. Janissari juga kadang memakai pole-arm yang disebut sebagai harba dan turpan. Janissari orta tertentu (Baltaci) juga memakai balta (halberd).
Prajurit Ottoman biasanya
menggunakan senjata yang didapat dari rampasan perang dan juga yang diimpor
dari Eropa. Pemasok senjata utama bagi Ottoman adalah Inggris dan Belanda yang
notabene adalah negara Kristen Protestan. Mereka memasok bubuk mesiu, laras
Arquebus, bahan baku pedang, dll. Sebagai balasannya, Ottoman mengekspor laras
senapan yang terkenal terbaik pada masanya, selain itu Ottoman juga mengajarkan
penggunaan artileri kepada negara Kristen Protestan yang pada waktu itu
bermusuhan dengan Negara Eropa yang Katolik.
Ottoman memproduksi sendiri berbagai
macam senjata yang dikendalikan oleh Gilda-Gilda. Gilda-Gilda tersebut masing-masing
memproduksi pistol, pedang, scimitar, pistol, musket, dan belati, serta kapak.
Sedangkan, artileri diproduksi sendiri oleh Cebehane (arsenal). Mulai abad 17,
Ottoman mengadopsi persenjataan dari Barat. Diantaranya adalah karabina
(karabin), müsket tüfenkleri (flintlock musket), tabanca (pistol), çift
tabancali tüfenk (double barreled pistol), zabtanah (musket), miquelet
(snaplock musket).
Pada abad ke-18, mulai dikenalkan bayonet. Tapi hal ini banyak ditentang oleh para Janissari karena menganggap menggunakan bayonet merupakan perbuatan yang tidak terhormat. Dengan menggunakan bayonet maka prajurit akan tampak seperti mesin karena berperang secara kolektif, bukan menonjolkan kekesatriaan permainan pedang.
KAMPANYE MILITER
Janissari sebagai pasukan utama Ottoman
turut serta pada hampir semua peperangan yang ada. Mulai dari Asia, Afrika
Utara, dan Eropa. Tercatat pertama kali Janissari berperan penting dalam
pertempuran adalah pada pertempuran melawan Turki Karaman di Konya (1389), di
sini Janissari yang berada di tengah mampu menghalau serangan musuh dengan
support dari kavaleri di sayap dan belakang. Pada pertempuran Kosovo (1389),
terdapat 2.000-5.000 Janissari yang ikut dalam pertempuran. Janissari yang
ditempatkan di tengah mampu melakukan serangan balik di bawah pimpinan Bayazid
Yildirim setelah sebelumnya dipukul mundur oleh serangan pasukan Serbia. Pada
pertempuran ini, Janissari melakukan kegagalan fatal pertama mereka yaitu
kegagalan melindungi Sultan Murad I sehingga beliau terbunuh oleh Milos Obilic.
Pada Pertempuran Ankara (1402) melawan Timurlenk, Janissari menempati posisi di
perbukitan dan mampu memukul mundur kavaleri Timurid yang terkenal tangguh.
Walaupun pada akhirnya Ottoman kalah pada pertempuran ini dan banyak dari
Janissari yang terbunuh, mereka mampu mengembalikan kejayaan Ottoman 11 tahun
kemudian di bawah Muhammad I.
Pada pertempuran Varna (1444), Janissari mampu membunuh salah satu komandan pasukan musuh, WladislaW III-Raja Polandia, dan membalikkan keadaan untuk keuntungan.
Keberhasilan terbesar Janissari adalah dalam Pengepungan Konstantinopel (1453). Janissari yang ikut dalam pengepungan ini sebanyak 5.000-10.000. Janissari terbukti sebagai ahli dalam pengepungan. Ulutbali Hasan (seorang Sipahi) dan 30 orang yang mengikutinya, termasuk beberapa Janissari, mengorbankan diri untuk memasang panji Ottoman di atas tembok Konstantinopel sehingga meningkatkan semangat juang pasukan lainnya.
Janissari juga berperan dalam
peperangan Ottoman melawan Moldavia dalam pertempuran Vaslui dan Valea Alba, yang
berakhir dengan kemenangan Ottoman. Termasuk dalam peperangan melawan Vlad
Dracula dimana Janissari yang dipimpin oleh Radu cel Frumos (Radu Bey) mampu
mengalahkan tentara Wallachia dan Vlad harus melarikan diri ke Hungaria. Pada
pertempuran Chaldiran (1514), Janissari terbukti lebih hebat daripada pasukan
Qizilbash Persia (Safawiyah), dengan keunggulan penggunaan musket, sehingga
kemenangan berada di pihak Ottoman. Termasuk dalam pertempuran Ridaniyeh dan
Marj Dabiq melawan Mameluk yang berakhir dengan dikuasainya Mesir oleh Ottoman.
Selanjutnya Janissari mengikuti
hampir seluruh peperangan yang dilakukan Ottoman termasuk kemenangan Ottoman
dalam pertempuran laut Zonchio & Preveza hingga kekalahan di Lepanto,
kegagalan pengepungan Ibukota Wina hingga 2 kali (1526 & 1683), kegagalan
pengepungan Malta, hingga pertempuran yang mereka lakukan melawan Sipahi pada
masa pembubaran mereka pada Juni 1826.
PROMOSI, GAJI, & MORAL
Promosi dan transfer dilakukan setiap dua hingga delapan tahun, atau jika ada kebijakan dari Sultan yang baru. Dalam Korps Janissari sangat mengunggulkan senioritas. Kedisiplinan dilaksanakan secara ketat. Murad I membuat 16 aturan untuk Janissari yaitu:
• kepatuhan total pada perwira,
• kesatuan dalam tujuan,
• budaya militer yang ketat,
• tidak diperbolehkan hidup mewah,
• kesalehan ketat di bawah kode Bektashi,
• menerima hanya orang yang terbaik,
• hukuman mati bagi pelanggar hukum berat,
• hukuman hanya dilakukan oleh perwira dalam satu Orta,
• promosi berdasarkan senioritas,
• menjaga diri mereka sendiri,
• tidak boleh menumbuhkan jenggot bagi prajurit biasa,
• tidak boleh menikah hingga pensiun,
• hanya hidup di barak,
• tidak boleh berdagang,
• pelatihan militer full time,
• dan dilarang minum alkohol dan berjudi.
Hukuman atas aturan di atas
diberikan bervariasi mulai dari kurungan hingga hukuman mati. Setelah melakukan
hukuman, maka seorang janissari wajib mencium tangan perwiranya sebagai tanda
kepatuhan. Jika diketahui desersi, hukuman yang dilaksanakan adalah hukuman
mati dengan cara dibenamkan ke laut atau danau pada malam hari untuk
menghindari rasa malu pada masyarakat.
Janissari menerima gaji setiap 3-4 kali pertahun, jumlah yang mereka terima awalnya sangat kecil namun mereka mendapatkan baju dan kain wool yang berkualitas, mendapatkan pasokan makanan yang lengkap, dan uang yang cukup untuk membeli peralatan militer yang baru. Janissari juga akan mendapatkan bonus gaji dan medali atas keberanian mereka di medan perang. Awalnya, yang dianggarkan untuk Janissari meliputi 10% dari belanja total militer Ottoman, namun pada masa Sultan Muhammad II naik menjadi 15%, dengan adanya kenaikan gaji Janissari.
Janissari tinggal di barak (Oda) mereka masing-masing. Kesatuan yang paling elit tinggal di sekitar istana Topkapi, Istanbul, yaitu Eski (lama) dan Yeni (baru) Oda. Dalam barak terdapat dapur, kamar, dan gudang senjata. Di setiap Barak ditandai dengan emblem masing-masing Orta. Janissari hidup di barak dan menjalani kehidupan mirip rahib, diperbolehkan menikah hanya kalau sudah pensiun.
Selama beberapa abad Janissari menjadi korps infantri yang paling ditakuti di Eropa. Mereka jauh lebih disiplin dari lawan-lawan mereka dari Eropa. Janissari mempunyai suatu kode kehormatan yang mungkin mirip dengan kode etik knight atau samurai. Mereka menghormati para pemberani dan ada suatu kompetisi dalam pertempuran untuk mendapatkan medali kehormatan. Ada medali yang dinamakan çelenk yang hanya diberikan kepada Janissari yang punya keberanian extra untuk melawan musuh yang lebih superior. Janissari yang gugur di medan pertempuran mendapat gelar Şahid, keluarga yang ditinggalkan akan mendapat uang pensiun, anak laki-lakinya akan diberi pekerjaan, dan anak perempuannya akan dicarikan suami. Setiap anggota Janissari yang cacat akan menjadi anggota kehormatan Ortanya.
Sepanjang sejarah, Janissari terkenal diantara rakyat miskin terutama karena pola kehidupan mereka yang “membumi” dan kehidupan semi-sosialis mereka. Hal ini banyak terpengaruh dari ajaran Bektashi. Agama menjadi dasar motivasi dan kehormatan Janissari. Setiap perbuatan yang mereka lakukan berdasarkan atas ajaran Darwis Bektashi. Eksistensi mereka hanyalah untuk melebarkan sayap kekuasaan Islam.
TUGAS LAIN
Ada bagian dari Janissari yang
disebut sebagai Mehter (Mehterhane) yang bertugas sebagai marching band, baik
di pertempuran maupun parade. Untuk lebih lengkapnya lihat trit tentang Mehter.
Agha Janissari jika sedang tidak berperang bertugas sebagai kepala polisi di
Istanbul. Semua Orta yang berada di ibukota menjalani tugas yang sama. Jika
sedang ada kampanye militer, tugas ini diserahkan kepada Açemi Oglan. Selain
itu, Janissari juga bertugas sebagai pemadam kebakaran di Istanbul.
Anggota tingkat menengah Janissari yang
ditempatkan di setiap Sancak (Provinsi) juga berperan sebagai administrator
lokal, berperan dalam pembangunan infrastruktur, sebagai pemadam kebakaran dll.
Perannya sebagai administrator lokal ini menyebabkan banyak anggota Janissari yang
akhirnya ikut dalam birokrasi dan perdagangan, yang lama kelamaan berubah
menjadi memonopoli birokrasi dan kegiatan ekonomi di wilayah tersebut. Orta
Janissari yang berada di Afrika Utara, seperti Janissari yang berada di bawah
komando Khairuddin Barbarossa, selain berperang mereka juga melakukan kegiatan
perdagangan. Ada pula yang menjalani bisnis bajak laut untuk membajak kapal-kapal
dagang orang-orang Eropa.
Cerita tentang akhir dari JANISSARI
Janissari menyadari pentingnya mereka
bagi Kesultanan sehingga mulai menginginkan kehidupan yang lebih baik. Pada
1449 mereka memberontak untuk pertama kalinya, menuntut upah lebih tinggi dari
yang mereka peroleh. Setelah 1451, setiap Sultan baru merasa berkewajiban untuk
memberikan kanaikan gaji dan hadiah-hadiah lainnya. Sultan Salim II memberi
izin bagi tentara untuk menikah pada 1566, merusak eksklusifitas kesetiaan
Janissari kepada Dinasti Ottoman.
Pada awal abad 17, Janissari mempunyai pengaruh yang besar terhadap pemerintah, baik di Ibukota maupun di wilayah lainnya. Mereka akan memberontak jika ada upaya-upaya untuk memodernisasi struktur tentara. Seluruh kebijakan yang dikeluarkan kesultanan didikte oleh Janissari. Jika ada sultan yang tidak sesuai dengan kepentingan mereka akan dikudeta dan digantikan oleh Sultan lain. Mereka memonopoli kepemilikan tanah, birokrasi, & perdagangan. Mereka juga mulai memasukkan anak-anak mereka ke dalam struktur Janissari tanpa harus melalui pelatihan militer sehingga mengurangi kekuatan militer utama Ottoman.
Pada 1622, para Janissari adalah
ancaman serius bagi stabilitas Kesultanan. Melalui keserakahan mereka dan
ketidak disiplinan, mereka menjadi pasukan yang tidak efektif menghadapi
kekuatan Eropa. Pada 1622, sultan remaja, Utsman II, setelah kekalahan dalam
perang melawan Polandia, menyalahkan Janissari atas kekalahan tersebut. Beliau
mulai membatasi peran Janissari dan menolak untuk “tunduk pada budak sendiri”.
Sultan Utsman II mencoba membubarkan korps Janissari. Pada musim semi, rumor
berkembang bahwa Sultan mempersiapkan pasukan untuk bergerak melawan mereka,
Janissari memberontak dan menjadikan Sultan sebagai tawanan. Sultan Utsman II
akhirnya terbunuh oleh Wazir Agung Davut Pasha dengan cara dipencet testisnya.
Anggaran kesultanan untuk membiayai
gaji Janissari sedemikian besarnya, walaupun banyak diantara mereka yang bukan
prajurit, bahkan Sultan harus membayar gaji Janissari yang sudah wafat.
Keefektifitasan mereka sebagai pasukan tempur menurun jauh. Satu-satunya yang
takut akan kekuatan Janissari hanyalah rakyat Ottoman sendiri. Kisah ini mirip
dengan Preatorian Guardnya Romawi. Janissari yang awalnya penjaga Kesultanan
akhirnya menjadi pagar makan tanaman, yang awalnya pelindung Kesultanan malah
menjadi ancaman terbesar bagi eksistensi Kesultanan. Perbatasan utara
Kekaisaran Ottoman perlahan-lahan mulai menyusut ke selatan setelah Pertempuran
kedua Wina tahun 1683, salah satunya disebabkan oleh kelemahan Janissari.
Pada tahun 1807, Janissari
memberontak dan menggulingkan Sultan Salim III, yang mencoba untuk
memodernisasi tentara. Mustafa Bayrakdar (Mustafa Bayraktar, yg ironisnya
adalah mantan anggota Janissari), Pasha dari Rustchuk, yang mendukung kebijakan
modernisasi Sultan gagal untuk menggagalkan pemberontakan ini karena tidak
datang di Istanbul tepat waktu dengan 40.000 pasukannya. Janissari menaikkan
Sultan Mustafa IV ke atas tahta. Ketika Mustafa Bayrakdar datang, dia akhirnya
menurunkan Mustafa IV dan menggantinya dengan Sultan Mahmud II.
Di bawah Sultan Mahmud II, Mustafa
Bayrakdar (Alemdar Mustafa Pasha) mereformasi militer dan membentuk suatu
pasukan baru serupa Nizam-i-Cedid, yang dinamakan Sekban-i-Cedid. Lagi-lagi
Janissari mengancam akan melakukan pemberontakan atas usaha modernisasi ini.
Sultan Mahmud II yang pada waktu itu belum punya kekuasaan riil akhirnya
melakukan kompromi dengan Janissari dan menyerahkan Alemdar Mustafa Pasha.
Alemdar Mustafa Pasha akhirnya terbunuh dengan cara meledakkan gudang mesiu
beserta 400 Janissari yang mengepungnya.
Keadaan mulai berubah pada tahun
1826. Sultan Mahmud II sudah cukup matang. Beliau mengeluarkan suatu fatwa
bahwa akan dibentuk suatu pasukan baru untuk menandingi kekuatan Eropa. Beliau
sadar bahwa dengan fatwa ini Janissari akan memberontak. Tapi kali ini Sultan
Mahmud II sudah siap. Pasukan kavaleri Sipahi sudah disipakan di Ibukota untuk
berjaga-jaga. Ketika Janissari yang tanpa persiapan melakukan pemberontakan dengan
menyerang istana, Sipahi yang lebih siap dan membawa perlengkapan tempur yang
lengkap mampu memukul mundur Janissari dan memaksa mereka kembali ke barak.
Janissari yang terperangkap di dalam barak ditembaki dengan artileri dan
mengakhiri riwayat mereka. Kejadian ini berlangsung hampir bersamaan di seluruh
wilayah Kesultanan yang terdapat barak Janissari, sehingga timbul kesan bahwa
Sultan sudah menyiapkan ini sejak lama. Para Agha Janissari ditangkap dan
dihukum mati di menara yang sekarang terkenal dengan Menara Darah. Janissari yang
tersisa akhirnya melarikan diri dan menanggalkan identitas mereka. Kejadian ini
dikenal sebagai The Auspicious Incident (Vaka-i Hayriye) terjadi pada Juni
1826, yang mengakhiri riwayat Janissari untuk selama-lamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar